Adakah pedoman agar seseorang tidak menjadi panik, histeris, kacau balau, berlarian di jalan menyadari hidup di dunia saat ini? Saya membayangkan wajah-wajah yang ngeri ketakutan, seperti lukisan “The Scream” karya Edvard Munch yang menangkap esensi dari keresahan orang. Bagaimana tidak panik, dunia tidak sedang baik-baik saja, pandemi, krisis ekonomi, hoaks, kerusakan lingkungan, hingga me­rosotnya demokrasi global. Membaca kumpulan esai Bre Redana mengingatkan saya bahwa ada titik ambang antara kewarasan dan kegilaan, dan membaca kata-kata dalam buku ini memungkinkan saya berjalan di titian, menoleh melihat kekacauan tanpa terperosok dalam nihilisme. Membaca tulisan demi tulisan satu persatu, saya mulai memahami pentingnya menjaga rasa humor atau satir bahkan, sebab itu cara untuk bertahan. Buku ini adalah pegangan penting bagi mereka yang ingin melihat realitas secara tajam, namun tanpa ke­hilangan irama untuk mendendangkan keindahan. Saya adalah pembaca setia tulisan-tulisan Bre Redana; ada disiplin pewarta di dalamnya, tetapi juga kejenakaan, nostalgia, dan angst, kecemasan yang berisi. Kecemasan yang perlu ada.

Sedari dulu, saya membaca tulisan Bre Redana juga untuk belajar tentang sejarah kebudayaan di Indonesia. Saya melihat beragam sisi budaya dari sudut pandangnya sebagai seorang urbanis yang selalu menyelipkan kesan kangen pada perdesaan. Dalam tulisan “Di Atas Prameks, Bre Redana mengajak kita melihat perubahan budaya baik secara konseptual maupun secara faktual. Turut menum­pangi Prambanan Ekspres, saya mencoba membayangkan peralihan budaya yang telah terjadi, dari masyarakat agrikul­tural hingga menjadi masyarakat digital. Nampak bende­rang kekhawatirannya terhadap kehadiran teknologi digital. Ia mengatakan, “Karena sifat medianya, teknologi digital berkemungkinan mentransformasikan realitas menjadi realitas gadungan.” Ia mendasarkan kekhawatiran ini meng­gunakan teori media dari Marshall McLuhan, dan juga dari pengalamannya sebagai seorang jurnalis yang getir melihat berita bohong menjalar destruktif di dalam masyarakat. Keanehan realitas gadungan yang ia sindir berhubungan pula dengan overdosis moral yang semakin kencang berdengung melalui media sosial. Teknologi bersumber dari kecemerlangan nalar manusia, tapi mengapa gawai-gawai ini membuat pikiran justru menjadi lelah? Saking letihnya, nalar kita pun jadi vakum.

Ada yang janggal semenjak meledaknya internet. Kita semua berserah padanya dan merasakan bahwa kedatangan World Wide Web adalah suatu wujud kealamiahan kemajuan zaman. Orang-orang mengatakan diri mereka telah terbebas, sebab mereka dapat berada di mana saja pada saat yang bersamaan melalui gawai yang berada di genggaman tangan. Pada masa Marshall McLuhan memperkenalkan gagasannya, “The Medium is The Message” memang masih jauh dari masa internet. Akan tetapi, ia sudah mengingatkan meski menggunakan contoh medium yang berbeda. Dalam salah acara diskusi, McLuhan menjawab pertanyaan dengan tegas. Televisi adalah medium yang populer, tetapi perhatiannya tidak terpusat pada program-program acara televisi saja, melebihi itu ia mempersoalkan televisi sebagai forma tek­nologis yang membentuk lingkungan tertentu. Medium ini mengubah segala cara manusia memahami kerja, waktu senggang, politik, hingga percintaan!

Bre Redana tidak ingin para pembaca menerima secara lugu, bahwa teknologi itu persoalan benda perkakas saja. Gawai hanya sebagai produk saja. Padahal, teknologi adalah serangkaian sistem, sistem ini menyelubungi kita hingga ranah yang paling privat, yakni pikiran kita sendiri. Meng­gunakan bahasa McLuhan, ia memperingatkan tentang retribalisasi, kita berpikir dalam bentuk kawanan, tribal yang baru. Orang kehilangan individualitasnya, sebab kesadaran mereka sudah dikendalikan oleh media, makna tentang kebahagiaan, kecantikan, dan kesuksesan. Tentu pesan ini masih kontekstual jika dikaitkan dengan masa sekarang, media sosial kita dijejali dengan citra-citra yang membuat pengguna kewalahan. Serbuan informasi ini menyulitkan seseorang untuk menyisakan individualitasnya. Masih adakah pengalaman yang otentik bagi seseorang di tengah bisingnya keramaian lalu lintas ruang digital kita? Bre Redana meng­kritik mentalitas buzzer atau pendengung yang belakangan ini semakin menjadi-jadi. Sambil berkelakar ia menyinggung karakter Minion dalam film animasi Despicable Me, para pengikut yang butuh melayani tuan yang jahat.

Intinya, jika kita tidak memahami medium maka se­sungguhnya kita melalaikan pesan yang sesungguhnya. Apa yang dapat kita selidiki tentang medium ini? Bre Redana membicarakan tentang kecepatan. Kegagapan masyarakat menghadapi letusan informasi ini termasuk kebingungan menilai kecepatan sebagai hal yang secara inheren baik. Betapa sesatnya pandangan ini, industri hoaks bersukaria sebab pengguna menerima begitu saja kebohongan daripada mengambil jeda untuk memeriksa kebenaran terlebih dahulu. Gaya hidup kita pun didominasi dengan berita viral, kadang kala, saya pun merasa terpasung mengikuti arus yang tidak henti-hentinya menjejalkan informasi yang mengganggu kesehatan mental. Paul Virilio seorang filsuf yang mencermati fenomena ini menyebutkan tentang Dromologi, suatu logika tentang kecepatan. Perlombaan untuk mewujudkan teknologi dengan logika kecepatan ini seringkali melupakan risiko terjadinya malfungsi, kebencanaan atau kecelakaan.

Tommy F. Awuy pernah memberikan kuliah tentang Budaya Sekelebat, yang masyarakatnya selalu berada dalam euforia yang sekelebat, yang segera, yang sekarang, yang cepat. Apa problemnya? Kita abaikan proses pemaknaan individual, penalaran yang ketat, juga interaksi atau ko­munikasi yang mendalam bersama orang lain. Bre Redana mengkhawatirkan kemerosotan relasi ini, kita terjebak pada yang superfisial. Kata-kata McLuhan membekas di hati saya, “Segala sesuatunya terjadi sekarang. Tanpa ada kontinuitas, tanpa ada keterhubungan, tidak ada tindak lanjut setelahnya. Segalanya adalah sekarang.” Ganjil sekali kondisi ini, sega­lanya terjadi sekarang tapi kita melewatkan segalanya yang substansial. Saya mencoba mengingat seperti apa hidup ini sebelum kecanduan WiFi? Seperti cerita Bre Redana soal kafe-kafe yang menggantung tulisan “No WiFi” agar pe­ngunjungnya bercakap-cakap tanpa diganggu gawai. Saya coba mengingat, tapi ingatan itu kabur.

Jika demikian, apa kunci hidup bahagia di dunia distopik ini? Rumusan Bre Redana terletak pada penciptaan ulang narasi terus menerus. Dalam esainya yang berjudul “Dongeng dari Gunung Penanggungan” pembaca diajak untuk merawat dongeng. Ia mengatakan, “Narasi berupa dongeng dan le­genda adalah suatu cara untuk mengungkapkan kebenaran, kasunyatan. Para leluhur memberi pelajaran, kebenaran tak selalu berada pada sesuatu yang kasat mata, sesuatu yang dipahami orang sebagai fakta. Justru sebaliknya, seperti babad, ia sering ditulis dalam bentuk dongeng, semacam fiksi dengan gaya realisme magis.” Betapa cerdiknya usulan Bre Redana, produksi kultural terjadi melalui dongeng, ini sudah terbukti bertahan semenjak ratusan tahun lamanya. Kita perlu mengembalikan dongeng dalam kehidupan kita. Dongeng yang dimaksud oleh Bre Redana adalah dikem­balikannya yang etis dan estetik. Dongeng masyarakat masa lampau memang indah, selain itu juga berguna, tetapi lebih penting lagi dongeng itu ditujukan untuk mendidik karakter dan jiwa kita.

Saat wabah corona terjadi, banyak orang menyangsikan kebenarannya, meski ilmuwan sudah menyampaikan fakta, ahli kesehatan memberikan penjelasan, hingga pasien dan penyintas penyakit ini bersaksi. Namun, banyak yang me­ragukan virus ini. Sampai akhirnya warga yang prihatin harus menggunakan cara lain mengingatkan bahayanya virus ini. Mereka menempatkan pocong-pocong di setiap sudut jalan agar masyarakat tertib menjalankan pembatasan sosial demi keselamatan bersama. Saat membaca cerita ini saya tergelak. Setelah sekian lama berduka, frustrasi berdiam diri di rumah, cerita itu menghibur dan memantik perenungan saya. Keje­niusan lokal semacam ini juga ditelusuri di ranah penggiat budaya. Dosen dan mahasiswa di kampus FIB UI bekerja sama dalam pengabdian masyarakat untuk menyampaikan pesan menjaga kebersihan diri, juga pentingnya mening­katkan imunitas melalui dongeng kepada anak-anak. Betul yang disampaikan Bre Redana, dongeng akan mengasah kepekaan kita untuk mencari kebenaran yang tersembunyi.

Esai Bre Redana yang berjudul “Kutukan Mpu Gandring” adalah salah satu esai yang paling saya sukai, saya membaca­nya sudah berkali-kali, meskipun begitu, selalu ada inspirasi baru yang saya dapatkan. Bre Redana membicarakan ratapan Ibu Buku, begitulah Bre Redana menghayati buku-bukunya, seorang ibu yang menjadi sumber pengetahuan. Malangnya, buku semakin tergerus, tidak banyak yang bersedia dengan sabar membaca kata-kata, halaman demi halaman. “Buku saya sebut Ibu, karena bukulah yang melahirkan peradaban, mengantarkan manusia pada tingkat evolusi neuron sampai pada tahap seperti sekarang,” demikian ujar Bre Redana. Esai ini membicarakan bermacam-macam soal, kecerdasan buatan, trending topic, hingga kesembronoan Ken Arok. Sebagai sesama pengabdi buku, saya mengerti kegalauan Bre Redana tentang aktivitas otak manusia. Marshall McLuhan mengatakan manusia renaisans adalah manusia yang me­ninggikan buku. Membaca buku adalah pengalaman kontem­platif yang merangsang otak kita untuk berimajinasi. Namun apa urgensinya buku, jika internet sudah menyediakan semua jawaban. Segalanya ada di jangkauan jemari kita, dalam sekejap saja!

Bre Redana ingin otak kita dipacu. Bacalah buku di ken­daraan umum, di sekolah, di kala rehat bekerja, atau subuh dini hari sebagai peribadahan suci kepada Ibu. Membaca buku telah menjadi seni yang sekarat. Setiap orang lebih tertarik menyimak topik yang sedang tren, ia menyebutkan ini sebagai penyeragaman pikiran. Memang ada paradoks, produk informasi berlimpah ruah, tetapi topik yang digubris seragam. Keanekaragaman pikiran yang dihasilkan dari me­ditasi pembacaan buku menjadi langka. Pada tulisan berjudul “Pada Mulanya adalah Kata” ia mengatakan, “Literasi kini diganti digitalisasi.” Tentu kini saya pun mengantungi iPad yang berisikan ratusan buku. Digitalisasi jika digunakan secara bijak akan bermanfaat bagi penyebarluasan penge­tahuan. Namun, bukan hal itu yang disorot Bre Redana, kembali pada pesan McLuhan, tidak pada soal insidentilnya, tetapi pada yang utama, medium! Bangunan sistemik di­gitalisasi yang menghipnotis kesadaran masyarakat yang membuat terlena. Inilah yang menjadi problem utama.

Membaca tulisan Bre Redana yang berjudul “Praha” saya terngiang masa-masa menghadiri seminar dan berziarah ke makam Franz Kafka. Memang benar, sastra penting demi menjaga kewarasan kita. Bre Redana mengatakan, sastra adalah teman terbaik manusia. Ia membahas keindahan pikiran para sastrawan, Milan Kundera, Gabriel Garcia Marquez, Salman Rushdie, Rabindranath Tagore, Pramoedya Ananta Toer, Rendra. Karya-karya Kafka seperti Metamor­fosis dan Istana merupakan buku wajib dalam mata kuliah Eksistensialisme. Ia pernah mengatakan betapa cintanya dirinya pada sastra. Di Museum Kafka yang diceritakan oleh Bre Redana, yang bentuknya mirip labirin yang suram, gelap, yang membuat kepala disorientasi, saya baru terbayang keruwetan isi kepala seorang sastrawan besar seperti Kafka. Cinta sejatinya memang sastra, bahkan ia mengatakan, “Sebuah buku harus dapat menjadi kapak yang membelah samudra yang membeku di dalam diri kita.” Sastra adalah kapak yang memecahkan hati yang beku, menghangatkan kita ketika rasionalitas membuat kita menggigil dalam kesepian. Sastra adalah adalah kekasih yang setia, sampai kapan pun akan memikul diri yang sakit.

Dalam proses menulis kata pengantar ini, pikiran saya mon­dar-mandir di antara dua gagasan. Ada kalanya saya merasa pesimis dan merisaukan kiamat senyap kebudayaan di masa disrupsi ini. Namun, ada masa saya merasa optimis dengan datangnya terobosan digital, seperti yang dirasakan oleh Bre Redana dalam tulisannya yang berjudul “Ketika Bangun di Pagi Bulan September”. Dobrakan teknologi pun dapat men­dorong munculnya subjek-subjek baru, “Betapa ahistorisnya saya selama ini. Mana mungkin teknologi informasi yang berkembang pesat dan mengubah segalanya tak berdampak revolusioner terhadap anak kandungnya, generasi Z, generasi milenial, atau apalah sebutannya.” Sebab akibat adalah ke­kuatan yang tidak dapat disangkal. Di mana pun kekuasaan menjulang seperti menara, ia pun akan memunculkan oposisi-oposisinya. Bermunculan generasi pembaharu yang energetik meretas teknologi, yang kemudian dipakai untuk memper­juangkan lingkungan hidup, keadilan, dan hak asasi manusia.

Pertama kalinya saya berjumpa Bre Redana, sesaat setelah mengatakan bahwa saya orang Bali, ia minta dipanggil Bli. “Panggil aja Bli Bre, jangan Bapak.” Mbak Vivi, istrinya yang cantik dengan senyum yang hangat kemudian menyalami tangan saya. Kami berjumpa di acara kebudayaan, kala itu saya masih 25 tahun. Tapi, jiwa kami otomatis tersambung karena sama-sama penggila filsafat. Saya mendengarkan cerita petualangannya dengan mata berbinar. Ia mengunjungi daerah-daerah di Indonesia, ia menulis tentang peristiwa kebudayaan di New York, Praha, Bangkok, Amsterdam, sungguhlah ia adalah seorang penduduk dunia, seorang kosmopolit. Meski ia sudah menyusuri berbagai benua, tetap saja yang retro melekat dalam kata-kata yang ia ciptakan, “Generasi masa kini nantinya akan menyimpan kenangan sebagaimana generasi saya mengenang Rex, gedung bioskop bergaya art deco zaman dulu, kenangan manis zaman Cinema Paradiso.” Kerap saya merenungkan kehidupan yang pernah dimiliki bangunan-bangunan tua yang dikisahkan oleh Bre Redana. Tulisan-tulisan ini, yang bercerita tentang candi petirtaan di Jawa Timur, atau bioskop lawas di Jawa Tengah, hingga perkantoran yang kosong di Jakarta karena wabah, semua ini membuktikan tentang kesaktian waktu.

Sampailah kita pada pertanyaan terakhir: untuk apa menulis, apalagi dalam kondisi yang sukar untuk dimengerti seperti sekarang ini? Pantaskah berharap di zaman yang ambrol ini? Kata ambrol yang digunakan oleh Bre Redana dalam esai “Jangan Ganggu Kami” adalah kata yang estetis nan tragis namun sesuai menggambarkan situasi simpang siur politik, budaya, sosial yang sedang berlangsung. Bre Redana menyebutkan kesungguhan hati seorang pengikut Zen Buddhisme. Filosofi Zen Buddhisme menerima kontra­diksi dan paradoks sebagai cara untuk menghayati kehidupan ini. Bahkan, ajaran Zen Buddhist mendorong orang untuk bermeditasi pada paradoks tersebut agar dapat membang­kitkan kesadaran mendalam yang tidak lagi terkekang oleh distingsi logis. Jalan pencerahan dalam Zen Buddhist salah satunya ditempuh menggunakan humor. Realitas memang absurd, alih-alih kita terjebak dalam dua ekstrem, indah dan buruk, benar dan salah, sakral dan profan, Zen Buddhisme mengajak kita untuk tertawa. Sebab, ada penyibakan kebe­naran dalam tawa yang miris sekalipun. Kita semestinya berbahagia menjadi sederhana dan biasa, Zen Buddhisme mengajarkan orang untuk berbahagia cukup dengan duduk dan bernafas. Berbahagialah karena nafas, melalui nafas. Bre Redana mengatakan, “Meski zaman sudah mengisyarat­kannya, tetap tidak mudah menjadi sederhana dan biasa.” Itulah paradoksnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.